Sabtu, 26 Oktober 2013

Part 4: The End of The Journey


Kami membuka mata. Kami terkejut, karena kami ternyata sedang tertidur di taman. Melly menengok jamnya. Ternyata kami hanya pergi satu jam, padahal kami disana selama satu bulan. Masih agak tegang dan terkejut, kami segera pulang ke rumah dan segera istirahat.
Fyuh…akhirnya aku sampai di rumah. Aku masih terngiang-ngiang dengan perjalanan kami. Aku berjanji akan melakukannya di dunia nyata. Kemudian, aku mengambil buku diary kesayanganku dan mulai menulis pengalamanku, Billa, Melly dan Lillian.

Dear Diary,
Hari ini aku mengalami petualangan seru bersama Billa, Melly dan Lillian. Semua itu dimulai dari taman. ...........................................................................................................................................................

-Moonlight

Part 3: Menghijaukan Lingkungan


Kami pun jatuh di tempat yang begitu panas, dan tidak ada tanaman. Sesak kami dibuatnya. Dihadapan kami hanya ada perumahan yang cukup besar dan kami tidak melihat ada pohon untuk berteduh sama sekali. Tempat apakah ini? Keadaannya buruk sekali. Kami sangat kepanasan. Huuh.
Ketika kami melihat badan dan wajah kami, kami langsung berteriak spontan dan kaget. Aaaaa!! Kita bukan seperti anak kelas 6 SD lagi, tapi seperti anak kuliahan berumur 20 tahun! Oh! 8 tahun lebih tua! Tidak!
Mungkin kalian bilang ini sangat aneh dan tidak masuk akal, fantasi konyol dan lain sebagainya. Kami sendiri pun tidak percaya dan menganggap ini mimpi. Tapi ini aneh tapi nyata!
Sedang bingung-bingungnya kami karena tubuh kami berubah menjadi gadis remaja muslimah nan cantik dan manis, tiba-tiba datang suara menggema itu mengagetkan kami lagi. “Perubahan tubuh kalian ini akan membantu tugas kalian di misi kedua ini. Misi kedua kalian adalah menghijaukan lingkungan ini dengan menanam tanaman supaya kembali teduh.”
Kami tidak lagi bingung dengan suara ini. Kami mengangguk dan tersenyum, kemudian bergandengan tangan memasuki kawasan perumahan itu. Kami mengetuk pintu salah satu rumah disitu. “Assalamualaikum!” ucap Lillian setelah mengetuk pintu. Seorang remaja perempuan yang tinggi membukakan pintu. Hah! Dia orang bule!
“Hello. Hey, who are you? I think I never see you.” sapanya pada kami. Sebenarnya kita itu dimana, sih? Apa di luar negeri? “Oh, hello. My name is Melly, this is Adhita, Billa and Lillian. Ummm, who are you?” jawab Melly. Untung kita bersekolah di sekolah internasional, jadi kami  sudah cukup fasih berbahasa inggris. “My name is Carissa.” balasnya. “Carissa where are we now?”Tanya Billa pada Carissa. “We are in USA, of course. Where do you come from?” jawab Carissa kebingungan. Kami terbelalak. Kita di Amerika? “We come from Indonesia. Sorry, Carissa, may we stay in your house while? We don’t have a place to stay”.tanyaku padanya. “Oh, of course. But, I asked my parents permission first, ok?”jawabnya dengan senyuman. Kemudian ia mengajak kami masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya lumayan bagus, lebih bagus dari rumahku. Di dalamnya banyak barang antik yang bagus dan unik. Mungkin orang tuanya pecinta barang antik.
Di dalam, kami bertemu orang tua Carissa. Orang tuanya juga tinggi seperti layaknya orang luar negeri. Carissa mengenalkan kami pada orang tuanya dan menjelaskan kedatangan kami. Untungnya orang tua Carissa setuju dan mnerima kami dengan tangan terbuka. Setelah itu kami diperlakukan baik disana. Kami diberi makanan dan pakaian yang layak. Namun, untuk jilbab, kami tetap memakai jilbab yang kami kenakan, karena mungkin mereka non muslim jadi tidak punya jilbab. Tak apa.
Menunggu habisnya hari itu, kami berbincang-bincang dengan keluarga Carissa. Orang tua Carissa ternyata bernama Mr. Alex McKindery dan Mrs. Shareen McKindery. Saat itu kami juga langsung berbincang-bincang to the point mengenai tujuan kami dikirim kesini yaitu untuk menghijaukan lingkungan ini. Kami memakai sedikit kebohongan dalam pembicaraan ini agar mereka percaya. Bagaimana kalau kami menceritakan kejadian sebenarnya? Pasti tidak akan percaya dan malah menganggap kami gila! Mungkin ini alasan mengapa tubuh kami berubah, karena orang disini lebih berpendidikan, tidak akan dengan mudah menerima pendapat anak kecil, tak seperti di kampung pemulung yang semua warganya bisa dengan menerima usul kami. Ok, start our dialogue!
“Ummm, Mr., sorry, we think this environment is barren…”
“Yes, you right.  This environment is barren because the land here is not exact to plant and because we don’t know about planting.”
“Mr.and Mrs. McKindery, actually we are from a university in Indonesia, we got a job here for a little American fertilize the barren environment.”
“Oh, yes? It’s good. We need your help very much. We often feel heat because no plants here.”
“Can you help me to make a presentation about hydroponics cultivation techniques and about hanging plants tomorrow.”
“Of course! I will request to the local government for supporting this program and collecting society to listen your presentation.”
“Thank you”
Hari menjelang malam. Matahari telah kembali ke peraduannya dan burung-burung telah kembali ke sarangnya. Aku, Melly, Billa dan Lillian berkumpul di kamar yang disediakan keluarga Carissa untuk kami. Uhhh, rasanya kami belum terbiasa menjadi seperti anak kuliah. Rasanya aneh, menggerakkan badan yang lebih besar dari ukuran tubuh asli kami.
Di kamar kami mendiskusikan cara menyelesaikan misi kami ini. Kami membuka kliping kami yang selalu kami bawa. Disana ada cara menghijaukan lingkungan sempit, yaitu dengan teknologi hidroponik. Kami mempelajari teknik tersebut dan menyusun cara menjelaskan pada para warga perumahan. Kliping kami berbahasa Indonesia. Sulit juga mengartikan ke bahasa inggris, banyak kosa kata yang belum kami tahu. Tapi, ternyata kami diberi kemudahan. Waktu kami berharap diberi bantuan menerjemahkan, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari atas kasur. Ternyata itu sebuah alat translator! Sungguh tidak menyangka! Ini fantasi sekali!!
Esok paginya kami siap untuk melakukan presentasi. Kira-kira pukul 8 pagi waktu setempat, para warga sudah berkumpul untuk mendengarkan presentasi kami. Fyuh, we are ready to start this presentation!
“Hello, good morning. Assalamu’alaikum.”
“Let’s start this presentation. Please attention!”
“Ok, do you know about hydroponics cultivation techniques?”
“No..”
“We will make you know. The term hydroponics is used to explain how to grow crops without using soil as a planting medium. Here as well as planting in pots or other containers that use water or other porous materials, such as broken tiles, sand times, gravel and a white cork.”
“Some advantages of using a system of farming with hydroponics is
The first, can be done in the place are limited and hygienic.
The second, plants go faster and more efficient use of fertilizer.
The third, more secure and free from insects and disease weather.
The fourth, crop production is higher than with regular soil growing media.
The fifth, technically efficient in the treatment and equipment used
And the sixth, the quality of plants produced more great and not dirty.”
“In system of farming hydroponics, besides can to fertilize the barren environment, it can be to plants business, like flower or fruit. Are this interesting?”
“Yes…!”
“We will distribute the paper shows how to hydroponics planting.”
Kami pun membagikan kertas berisi cara bertanam hidroponik, kemudian kami melanjutkan presentasi.
“Now, we have to find a place to grow hydroponic plants. Ummm, is the field still in use?”
“No, all of  us are busy with our activities. This field has not been used.”
“Ok, we can use a part of this field to grow some hydroponic plants. Some family who have a yard can use a part to planting.”
“But, it can also make a hanging plants in front of your house. Plants can be leaves, flowers or vines.”
“So, do you agree with our presentation?”
“Of course, because it can make our environment to be more beautiful and not heat.”
“Thank you. But, we hope every family to buy the equipment to grow plants hydroponically or hanging plants, ok? Can we start our program from this day?”
“Yes…”
“Ok, thank you for your attention, Wassalamualaikum Wr. Wb.”
Fyuh, akhirnya presentasi kami selesai dan sukses!! Semua warga pun setuju dan memberi apresiasi pada kami. Yeah! Untungnya kami tak mendapat kesulitan berarti, dan untung saja cara kami menjelaskan dengan bahasa inggris benar, padahal penterjemahnya anak SD amatiran namun berwujud anak kuliah seperti kami. Belum terlalu mahir menyusun kalimat. Mungkin ada yang salah sedikit, tetapi mereka mungkin masih paham dan bisa mengira-ira.
Setelah presentasi kami hari ini, para warga benar-benar melakukan yang kami presentasikan. Mereka mulai membeli peralatan-peralatan menanam hidroponik maupun tanaman gantung, kemudian mereka mulai menanam.
Setiap hari disetiap kesibukannya para warga menyempatkan diri mengurus tanaman. Mereka antusias sekali.
Tak terasa kami sudah sekitar dua minggu berada di Amerika. Kami masih terus merepotkan keluarga McKindery dengan menumpang segala sesuatu disana. Tapi semoga mereka tidak keberatan, dan memang kelihatannya seperti itu, mereka tidak pernah menampakkan bahwa kami merepotkan, bahkan mereka tampak senang pada kami. Selama itu pula kami membantu para warga mengurus tanamannya.
Mulai terbersit di hati kami perasaan rindu pada rumah, dan tentunya pada orang tua kami, guru-guru kami dan teman-teman kami. Apakah mereka menghawatirkan kami yang telah pergi hampir satu  bulan. Ooh, we miss our live in Indonesia… need you all…
Saat ini kami sedang di halaman rumah Carissa McKindery, bernostalgia mengenai kehidupan kami di Indonesia. Hati kami semakin bergetar, rindu kampung halaman, dan ingin pulang. Ternyata di Amerika tidak seenak yang selalu orang-orang pikirkan, karena seindah-indah negeri orang, masih indah negeri sendiri. Mengapa? Karena disanalah tempat segala kenangan kita bersama orang terdekat…
Tapi kerinduan kami sedikit terobati dengan melihat tanaman-tanaman para warga yang mulai tumbuh. Senang rasanya hati kami, melihat bahwa kami bisa bermanfaat bagi bumi. Selain disini, kami juga ingat tentang perjalanan kami sebelumnya, di kampung Dini. Disana kami bisa meningkatkan ekonomi mereka dan menghindarkan mereka dari banjir. Itu indah bagi kami.
Tiba-tiba tanah bergoncang lagi dan semuanya bergerak cepat, seperti di akhir tugas kami di kampung pemulung. Kami berpegangan tangan erat dan menutup mata. Setelah goncangan selesai, kami membuka mata. Yang kami lihat adalah perumahan yang hijau banyak tanaman gantung dan tanaman hidroponik, dan para warganya sedang mengurusnya. Mereka satu-persatu menatap kami dan mengucapkan terima kasih dengan tersenyum manis. Kami membalas senyum manis mereka, dengan senyum yang lebih manis. Kami bahagia sekali, misi kami kembali sukses. Seorang gadis remaja, Carissa, mendekati dan memeluk kami satu persatu, kemudian mundur, dan melambaikan tangan. Kami membalasnya.
Seperti yang kami duga, suara menggema itu muncul lagi. “Kalian telah berhasil menjalankan semua misi kalian. Seluruh misi kalian telah selesai, saatnya kalian kembali. Tetapi ingat, kalian harus menerapkan di dunia nyata apa yang sudah kalian lakukan disini. Karena sesungguhnya kalian adalah anak-anak yang terpilih untuk diberi pendidikan di dunia mimpi tentang cara menyelamatkan bumi, dan misi kalian selanjutnya, menerapkan di dunia nyata. Selamat tinggal, dan selamat menjalankan misi utama kalian.” suara itu menghilang. Di depan kami muncul pusaran angin besar yang menyedot kami dulu. Kami pun tersedot lagi. “Aaaaaa!!”

Moonlight

Part 2: Membantu Warga Perumahan Kumuh + Mencegah Banjir


Belum habis kebingungan kami, tiba- tiba kami mendengar suara menggema dari langit. “Kalian disini ditugaskan untuk memperbaiki bumi yang hampir rusak. Kalian akan memiliki beberapa misi. Misi pertama kalian ada disini, yaitu, meningkatkan ekonomi warga perumahan kumuh”. Karena bingungnya, kami tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa berpandangan dan mengerutkan kening.
            Tiba-tiba datang anak kecil berpakaian kumuh mendekati kami. “Kak, kakak-kakak ini siapa? Sepertinya aku belum pernah melihat kalian.” Ucap anak itu kepada kami. “Oh, hai, dik. Namaku Adhita, ini Melly, ini Billa, dan ini Lillian.” Aku memperkenalkan diri kami. “O,ya, dik, namamu siapa? Dan kita ini ada dimana, ya?” Tanya Lillian pada anak itu. “Namaku Dini, kak. Kita ada di Kampung Pemulung. Semua orang disini bekerja sebagai pemulung. Termasuk aku.” anak itu menjawab. “Ummm, Dini, kami tersesat disini. Jika tidak keberatan, bolehkah kami menumpang tinggal di rumahmu?” Tanya Melly pada anak itu. “Oh, boleh, sih, kak. Tapi rumahku jelek dan sempit. Apa kalian mau tinggal di rumahku?”jawabnya. “Tidak apa-apa, kok.”jawabku. Dini pun mengantarkan kami menuju rumahnya.
Untuk ke rumahnya, kami melewati jalan yang sangat sempit yang dihimpit rumah-rumah kumuh. Keadaannya sungguh memprihatinkan.
            Akhirnya kami sampai di rumah Dini. Rumahnya sama dengan rumah-rumah yang kami lewati tadi, kumuh dan kecil. Dini mengajak kami untuk masuk ke rumahnya. Keadaan di dalamnya lebih memprihatinkan lagi. Lantainya hanya tanah, di rumahnya hanya ada empat ruang kecil yang disekat dengan kain kumal, yaitu ruang makan, dapur  kecil, dan dua kamar kecil. Disana kami bertemu orang tuanya dan ketiga adiknya. Dini memperkenalkan kami pada mereka dan menjelaskan maksud kedatangan kami. Dengan senang hati mereka menerima kami disini.Untuk menghabiskan waktu hari itu, kami membantu orang tua Dini membenahi rumah dan memasak seadanya.
Hari sudah  malam. Dini mengantar kami untuk tidur dengannya di kamarnya. Saat memasuki kamarnya, rasa sedih dan prihatin kembali menghinggapi kami. Kamarnya sangat kecil, hanya berisi lemari kecil, tikar di lantai untuk alas tidur, guling dan kain jarit untuk selimut. Tidak ada ranjang dan kami tidur berdesak-desakan di lantai. Sungguh memprihatinkan. Dalam hati aku bersyukur karena telah diberi nikmat yang lebih baik dari Allah.
Awalnya kami tidak bisa tidur karena kurang nyaman dengan keadaan ini. Namun akhirnya kami tertidur juga karena lelah.
Fajar akhirnya menyingsing. Kami segera mandi dan sholat subuh menggunakan mukena milik keluarga Dini. Kamar mandi disini juga kurang baik. Bagian atasnya hanya seng berlubang dan airnya harus menimba dulu.
Pagi ini, kami berkumpul untuk berdiskusi cara membantu ekonomi warga kampung pemulung. Kami membuka kliping kami yang terbawa kesini. Disana ada artikel mengenai cara-cara membuat kreasi dari barang-barang bekas yang bernilai seni. Kami berniat untuk mengajari warga sini hal itu. Pekerjaan mereka kan pemulung, jadi, takkan sulit bagi mereka mendapat barang bekas.
Dibantu oleh keluarga Dini, kami mengumpulkan para warga untuk kami adakan penyuluhan kecil. Kami secara bergantian menjelaskan rencana kami untuk membangun industri kreasi barang bekas disini. Alhamdulillah, semua warga menyambut baik dan setuju. Sungguh mengejutkan bahwa para warga dengan mudahnya setuju dengan ajakan anak kecil seperti kami ini. Besar sekali keinginan mereka untuk berubah. Kekhawatiran kami bahwa para warga tidak setuju dan malah memarahi kami karena dikira sok tahu sama sekali tidak beralasan.
Kemudian seluruh warga secara bersama-sama mengumpulkan barang bekas yang diperlukan dan membeli sedikit keperluan tambahan seperti pewarna, lem dan kertas. Setelah semua siap, para warga mulai membuat barang-barang unik hasil daur ulang. Selain untuk meningkatkan ekonomi, kegiatan ini juga bisa menjadi gerakan peduli lingkungan.
Kami turut membantu para warga berkreasi. Ternyata, hasil kreasi para warga bagus dan unik, terutama hasil anak-anak dan remaja. Ada yang membuat vas bunga dari botol minum, hiasan dinding, tas cantik, dan lain-lain. Mereka sungguh kreatif.
Setelah terkumpul cukup banyak, kami menjualnya ke kota. Di hari pertama ini, kami menjual keliling, dan hasilnya lumayan banyak. Lebih dari ratusan ribu! Wow! Kami tidak menyangka!
Hari-hari berikutnya, kami terus melakukan hal itu. Kami pun mendapat kemajuan, yaitu tidak hanya menjual keliling, tetapi sudah mendapat pesanan dari beberapa toko! Sungguh menyenangkan! Yang lebih menyenangkan, setelah itu ekonomi para warga meningkat cukup drastis.
Suatu hari, Dini mengajak kami ke sungai dekat kampung pemulung. Keadaan sungai itu sungguh buruk. Penuh dengan sampah. Dini menceritakan bahwa saat musim hujan banjir sering melanda kampung pemulung dan kampung-kampung lain di sekitar sini. Dini juga bercerita bahwa setiap terjadi banjir, kampungnya pasti jadi lebih berantakan dan kotor. Sebentar lagi musim hujan, banjir akan terjadi.
            Karena iba, langsung saja terbersit di pikiran kami untuk mengajak para warga bekerja bakti membersihkan sungai. Kami dan Dini segera kembali ke kampung dan menceritakan rencana kami mengajak warga membersihkan sungai agar tidak terjadi banjir. Warga pun setuju dan akan melakukan kerja bakti besok pagi, karena ini untuk kebaikan mereka juga.
            Esok paginya, para warga terutama laki-laki memulai membersihkan sungai dari sampah-sampah. Sedangkan ibu-ibu menyiapkan makan dan minum bagi warga yang beristirahat. Setelah sungai bersih, sampah-sampah dari sungai dibakar. Kami dan warga pun optimis tidak akan terkena banjir lagi. Kemudian kami kembali ke kampung.
            Kami melihat para warga senang karena akan terbebas dari banjir dan ekonominya meningkat. Kami pun merasa sangat senang dan saling bertos ria.
Tiba-tiba tanah berguncang kuat. Aku, Melly, Billa dan Lillian berpelukan erat. Kami melihat semua bergerak sangat cepat. Setelah gempa berhenti, yang kami lihat bukanlah kampung kumuh lagi, melainkan perumahan permanen yang sangat layak dihuni. Apakah ini kampung pemulung yang telah sukses karena usahanya?
Seorang gadis kecil ceria dengan pakaian bagus berlari-lari menghampiri kami. Dialah Dini. Dia berkata “Terima kasih atas jasa kalian, kak!”. Kami membalas dengan senyum termanis kami, kemudian dia pergi. Tiba-tiba terdengar lagi suara menggema seperti saat pertama kami disini. “Kalian telah berhasil dengan misi pertama kalian. Saatnya kalian lanjutkan ke misi selanjutnya!” Di depan kami tiba-tiba muncul pusaran angin besar yang menyedot kami. “Waaa!” kami berteriak-teriak.

Moonlight

Part 1: Start The Journey


Hey, all! Namaku Adhita. Aku anak kelas 6 di Annisa International Islamic School. Yeah, ini sekolah internasional yang bernuansa islam, jadi pergaulan di sini menggunakan bahasa indonesia, bahasa arab dan bahasa inggris. Okey, lepas dulu masalah itu. Sekarang, aku sedang di rumahku bersama ketiga sahabatku, Billa, Melly dan Lillian. Kami sedang melakukan kerja kelompok mengerjakan tugas ips yaitu membuat kliping cara melestarikan bumi dan cara membantu meningkatkan hasil ekonomi.
            “Friends! Ayo mulai cari di internet!” seruku memulai kerja kelompok. Setelah itu, kami sibuk mencari artikel mengenai cara melestarikan bumi dan meningkatkan hasil ekonomi keluarga kurang mampu. Kira-kira satu jam kemudian, kami selesai mencari. Hasil itu pun segera kami print. Setelah di print, kami berangkat menuju ke tempat fotokopi untuk menjilid kliping kami.
            Tempat fotokopi itu tidak jauh dari rumahku, hanya di kompleks sebelah. Setelah selesai menjilid, kami mampir dulu ke taman. Kami duduk-duduk di kursi taman menikmati angin sepoi-sepoi. Lillian yang membawa kliping kami, meletakkan kliping itu di sebelahnya. Tiba-tiba angin yang cukup kencang menerpa dan membuat kliping kami terhempas dan jatuh ke semak belukar di pojok taman. “Lillian! Kliping kita!” teriak Melly kaget. Secara spontan kami langsung berlari ke semak belukar tersebut.
Kami menyibak-nyibak semak tersebut, namun didalam semak itu, ada sebuah lubang besar. Kami merasakan lubang itu memiliki pusaran angin kuat, semakin kuat dan kuat sehingga kami tersedot ke dalamnya! Tidak!
            Bruk! Bruk! Bruk! Bruk!
Kami terjatuh berdebum-debum. “Awwwh!” kami berteriak spontan secara bersamaan. “Eh, kita dimana? Kok disini? Perasaan tadi tersedot lubang di taman, deh.” seru Billa. Kami memandang berkeliling. Yang kami lihat adalah tempat pembuangan sampah akhir yang sangat bau, dan rumah-rumah kumuh. Ini sangat aneh. Saat ini, kami belum sadar sama sekali bahwa THE JOURNEY IS START!!

--Moonlight--

The Journey To Save The Earth

Hi, guys!
Now, I wanna publish my story! The title is The Journey To Save The Earth.
Well, I'm sorry if the story isn't too good, because I made it when I am in Elementary School.
There are 4 parts in this story..
I hope you'll like my story!

-Moonlight